Techno  

WhatsApp Rilis Kendali Orang Tua untuk Remaja

Avatar
Logo WhatsApp berupa gelembung percakapan hijau dengan gagang telepon putih di tengah, di atas latar putih

EDARAN.ID – WhatsApp mengumumkan kendali orang tua untuk akun remaja pada 30 September 2026. Fitur opsional ini memberi orang tua wewenang mengatur setelan privasi, menerima notifikasi aktivitas, serta membatasi akses Saluran, Status, dan Meta AI di akun remaja. WhatsApp menyebut peluncurannya bertahap, dan belum ada pernyataan resmi soal tanggal untuk pengguna di Indonesia.

Pengumuman itu dimuat di blog resmi WhatsApp berjudul “New Controls to Help Parents Guide Their Teens on WhatsApp”. Perangkatnya disiapkan bersama antara orang tua dan remaja, bukan dipasang diam-diam, dan bisa dimatikan kapan saja. WhatsApp menyebutnya sebagai permulaan: kendali lain akan ditambahkan bertahap.

Apa saja yang bisa diatur orang tua?

Kendali dibagi menjadi tiga kelompok: setelan privasi, notifikasi aktivitas, dan akses fitur. Rinciannya tercantum di halaman bantuan WhatsApp tentang kendali orang tua untuk remaja dan halaman pengelolaan fitur akun remaja.

Data per 1 Oktober 2026, sumber: WhatsApp
Yang bisa diatur Keterangan
Setelan privasi Siapa yang bisa melihat foto profil remaja dan siapa yang bisa menambahkannya ke grup. Pilihannya mulai dari semua orang, kontak saja, kontak kecuali yang dikecualikan, kontak terpilih, sampai tidak seorang pun.
Notifikasi aktivitas Orang tua diberi tahu saat remaja bergabung atau keluar dari grup, dan saat grup yang diikutinya bertambah besar secara signifikan. Notifikasi juga dikirim untuk aktivitas penting seperti pergantian foto profil dan penambahan kontak baru.
Status Siapa yang bisa melihat Status remaja, dan Status siapa saja yang bisa dilihat remaja. Setelan bawaannya terbatas pada kontak remaja.
Saluran (Channels) Remaja bisa dibiarkan mengikuti semua saluran, dibatasi hanya pada saluran yang disetujui orang tua, atau tidak boleh melihat saluran sama sekali. Ada sakelar terpisah untuk izin membuat saluran.
Meta AI Dua pilihan: setelan bawaan yang mengikuti rating konten untuk pengguna 13+, atau opsi lebih ketat yang membatasi topik yang bisa dibahas remaja. WhatsApp menyebutnya “Limited Content” di blog dan “Limited” di halaman bantuan.
PIN orang tua Setelan privasi aman secara bawaan. Melonggarkannya ke opsi yang kurang ketat butuh persetujuan orang tua lewat PIN yang dipasang orang tua.
BACA JUGA:  Harga Terbaru iPhone 12 Pro Max, HP Mayor Teddy Ajudan Prabowo Subianto

PIN itu jadi kunci seluruh sistem. Remaja tetap bisa melihat dan mengubah setelan privasinya sendiri, tetapi perubahan ke arah yang lebih longgar tertahan sampai orang tua memasukkan PIN. Satu PIN dipakai untuk semua kendali, termasuk mengganti pengalaman Meta AI yang secara bawaan disetel ke mode standar.

Pengaturan Status jadi bagian yang paling menyentuh kebiasaan harian, apalagi setelah WhatsApp sebelumnya menghubungkan Status dengan platform lain. Lihat juga: WhatsApp otomatis memposting Status ke Facebook dan Instagram Stories.

BACA JUGA:  Spesifikasi Infinix Note 12 2023, HP Murah yang Dibekali RAM dan Memori yang Besar

Apakah orang tua bisa membaca chat remaja?

Tidak. Ini bagian yang ditegaskan WhatsApp berulang kali di pengumuman maupun halaman bantuannya. Pesan dan panggilan pribadi tetap dilindungi enkripsi ujung ke ujung, bahkan ketika kendali orang tua aktif. Menurut WhatsApp, tidak ada pihak di luar percakapan — termasuk orang tua dan WhatsApp sendiri — yang bisa membaca, mendengar, atau membagikan isinya.

Dua tangan memegang ponsel Samsung putih dengan percakapan WhatsApp terbuka dan papan emoji aktif di layar
Isi percakapan pribadi tetap terenkripsi ujung ke ujung meski kendali orang tua aktif. Foto: Helar Lukats / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Jadi yang diatur adalah lingkar pergaulan dan jangkauan akun, bukan isi percakapan. Orang tua tahu remajanya masuk grup baru, tetapi tidak tahu apa yang dibicarakan di dalamnya.

Apa bedanya dengan akun yang dikelola orang tua?

Keduanya berbeda dan tidak saling menggantikan. Akun yang dikelola orang tua (parent-managed accounts) diumumkan lebih dulu pada 11 Maret 2026 dan ditujukan untuk anak pra-remaja. Akun itu dikendalikan penuh oleh orang tua, yang menentukan siapa yang boleh menghubungi dan grup mana yang boleh diikuti, serta meninjau permintaan pesan dari kontak tak dikenal.

BACA JUGA:  WhatsApp Bakal Otomatis Memposting Status ke Facebook dan Instagram Stories

Kendali orang tua untuk remaja bekerja sebaliknya: akunnya milik remaja, dipakai remaja, dan orang tua hanya memasang pagar di sekelilingnya. Karena itu persetujuannya lewat PIN, bukan lewat pengambilalihan akun.

Kapan tersedia di Indonesia?

Belum ada tanggal. Halaman bantuan WhatsApp mencantumkan keterangan bahwa kendali orang tua untuk remaja digulirkan bertahap dan mungkin belum tersedia di wilayah tertentu. Tidak ada pernyataan resmi WhatsApp mengenai jadwal untuk pengguna di Indonesia.

Konteks regulasinya sendiri sudah ada. Indonesia memberlakukan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik Dalam Pelindungan Anak, yang dikenal sebagai PP TUNAS dan ditetapkan 27 Maret 2025. Aturan itu membebani penyelenggara sistem elektronik kewajiban melindungi anak di ruang digital. WhatsApp tidak menyebut PP TUNAS dalam pengumumannya, jadi kaitan keduanya belum bisa ditarik sebagai sebab-akibat.

Langkah berikutnya yang pasti hanya satu: peluncuran bertahap per wilayah. Ketersediaan di Indonesia akan terlihat dari munculnya menu Kendali orang tua di Setelan WhatsApp, dan dari keterangan wilayah di halaman bantuan resmi yang sampai 1 Oktober 2026 masih menyebut fitur ini belum merata.

***

Cek Berita dan Artikel Edaran.ID lainnya di Google News