Market  

Jangan Salah Boikot, ini Sejarah PT Mayora Indah Tbk di Indonesia

Avatar
Gedung pabrik bertuliskan TORABIKA The Coffee Specialist dilihat dari bawah, dengan teks judul "Berdiri Sejak 1977"
Pabrik Torabika, entitas anak PT Mayora Indah Tbk dengan kepemilikan 96,23 persen. Foto: Kolimah Azza / Wikimedia Commons, CC BY 3.0, diberi teks judul oleh Edaran.ID

RINGKASAN CEPAT

  • Akta pendiriannya bernomor 204, ditandatangani pada 17 Februari 1977 di hadapan seorang notaris yang berkedudukan di Jakarta.
  • Sahamnya mulai ditawarkan ke publik pada 1990, dan seluruh lembarnya kini diperdagangkan di bursa saham nasional.
  • Asetnya tumbuh sekitar Rp 1,65 triliun sepanjang 2025, menurut neraca konsolidasian yang sudah diaudit akuntan publik.

Jakarta, Edaran.ID – Nama Mayora lebih dikenal lewat produknya di warung ketimbang lewat riwayat perusahaannya sendiri.

Jawaban langsung: PT Mayora Indah Tbk berdiri lewat akta notaris tertanggal 17 Februari 1977, mulai beroperasi secara komersial pada Mei 1978, lalu melantai di bursa tiga belas tahun kemudian. Per 31 Desember 2025 jumlah asetnya tercatat Rp 31,38 triliun. Artikel ini merangkum riwayat, kepemilikan, dan lokasi usahanya berdasarkan laporan keuangan auditannya.

Kapan PT Mayora Indah Tbk didirikan?

Catatan atas laporan keuangan konsolidasian 2025 mencantumkannya secara rinci. Perusahaan didirikan dengan Akta Nomor 204 tanggal 17 Februari 1977 dari Poppy Savitri Parmanto, S.H., pengganti Ridwan Suselo, S.H., notaris di Jakarta.

BACA JUGA:  Ternyata Cara Boikot Produk Pro Israel di Luar Negeri dan di Indonesia Berbeda

Akta itu disahkan Menteri Kehakiman lewat surat keputusan tertanggal 3 Januari 1978, dan perusahaan baru mulai beroperasi secara komersial pada Mei 1978. Jadi jarak antara tanda tangan akta dan dapur produksi yang benar-benar menyala kira-kira satu tahun tiga bulan.

Linimasa PT Mayora Indah Tbk: akta 1977, operasi komersial 1978, melantai di bursa 1990, aset Rp 31,38 triliun pada 2025
Linimasa PT Mayora Indah Tbk menurut laporan keuangan konsolidasian auditan 2025. Grafik: Edaran.ID

Siapa pendiri dan pemilik Mayora sekarang?

Perusahaan ini dirintis Jogi Hendra Atmadja bersama Raden Soedigdo dan Darmawan Kurnia. Nama Jogi Hendra Atmadja yang paling sering disebut, karena ia yang membawa perusahaan ini tumbuh dari pabrik biskuit menjadi kelompok usaha berskala nasional.

Soal kepemilikan hari ini, laporan keuangannya menyebut angka yang pasti. Pemegang saham mayoritas Mayora adalah PT Unita Branindo dan PT Mayora Dhana Utama. Per 31 Desember 2025, seluruh saham perusahaan berjumlah 22.358.699.725 lembar dan tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Pencatatan itu bermula pada 1990. Perusahaan memperoleh persetujuan Menteri Keuangan pada 25 Mei 1990 untuk menawarkan 3.000.000 saham bernilai nominal Rp 1.000, dengan harga penawaran Rp 9.300 per saham.

BACA JUGA:  Le Minerale Diisukan Pro Israel, Ternyata Begini Fakta yang Sebenarnya

Dari sisi ukuran usahanya, nilai aset konsolidasian perusahaan tumbuh ke Rp 31,38 triliun pada penutup 2025, dibanding Rp 29,73 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di mana kantor pusat dan pabriknya?

Laporan keuangan 2025 menempatkan kantor pusat perusahaan di Gedung Mayora, Jalan Daan Mogot Kilometer 18, Kalideres, Jakarta. Pabrik milik perusahaan induk sendiri berada di Tangerang dan Bekasi.

Lokasi lain yang sering disebut sebenarnya milik entitas anaknya, bukan milik induknya langsung. PT Sinar Pangan Barat beroperasi di Medan dan PT Sinar Pangan Timur di Surabaya, sementara PT Torabika Eka Semesta dan PT Kakao Mas Gemilang berada di Tangerang.

Botol Teh Pucuk Harum dengan logo Mayora terlihat di sudut kanan atas label
Teh Pucuk Harum, salah satu merek yang dinaungi Mayora. Foto: SATELITBM / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Merek apa saja yang dinaungi Mayora?

Yang paling akrab di warung adalah permen Kopiko, biskuit Roma, dan minuman serbuk Energen. Di rak minuman siap minum ada Teh Pucuk Harum, sementara lini kopinya digarap lewat Torabika.

BACA JUGA:  Jangan Salah Boikot, ini Daftar Produk Wings yang Banyak Dijual di Warung

Satu merek yang kerap dikira anak usaha Mayora adalah Le Minerale. Air minum kemasan itu diproduksi PT Tirta Fresindo Jaya, yang di laporan keuangan Mayora berstatus pihak berelasi, bukan entitas anak. Perbedaannya dibahas terpisah di artikel tentang kaitan Mayora dan Le Minerale.

Bagaimana dengan isu boikotnya?

Nama Mayora sempat beredar di daftar boikot produk yang dianggap pro Israel, dan manajemen membantahnya. Penelusuran pada panduan boikot resmi gerakan BDS juga tidak menemukan merek Mayora di sana.

Duduk perkaranya, termasuk daftar perusahaan yang benar-benar jadi sasaran kampanye dan cara memeriksanya sendiri, sudah diuraikan lengkap di halaman khusus soal status boikot Mayora. Pertanyaan serupa untuk merek lain bisa dibaca di penelusuran Edaran.ID soal air minum Crystalline dan Wings Group.***

Cek Berita dan Artikel Edaran.ID lainnya di Google News