Market  

BDS Indonesia Keluarkan Starbuks dari Daftar Boikot, Ternyata Bosnya Mantan Loper Koran

Avatar
Ilustrasi Starbuks. (Edaran.ID)

Jakarta, Edaran.ID – Gerakan BDS Indonesia mengeluarkan daftar boikot terbaru saat ini.

Dan kabar menariknya, BDS Indonesia mengeluarkan Starbuks dalam daftar boikot produk Pro Israel.

BDS Indonesia Indonesia beralasan, jika Starbuks telah mengalami tekanan signifikan dari gerakan boikot ini.

Pasalnya, Starbuks menjadi sasaran boikot organik oleh masyarakat secara luas.

Sejarah Pendirian Starbuks

Howard Schultz, mantan CEO Starbucks, bukanlah nama asing dalam dunia bisnis internasional.

Meskipun terkenal sebagai salah satu triliuner dengan kekayaan mencapai Rp 49 T saat ini, perjalanan hidupnya dimulai dari keluarga sederhana di Amerika Serikat.

Schultz, yang pernah menjabat sebagai CEO Starbucks dari tahun 1987 hingga 2000, memiliki latar belakang yang patut diinspirasi.

BACA JUGA:  Daftar 121 Produk yang Diboikot Karena Diduga Terafiliasi dengan Israel, Benarkah?

Ayah Schultz bekerja keras sebagai sopir truk, buruh pabrik, dan bahkan sopir taksi untuk menghidupi keluarganya.

Keluarga mereka tinggal di perumahan subsidi dan mengalami tantangan finansial yang besar, dengan penghasilan ayahnya kala itu tidak pernah melebihi US$ 20.000 per tahun.

“Keluarga kami tidak memiliki penghasilan, tidak ada asuransi kesehatan, tidak ada uang kompensasi,” tulis Schultz dalam bukunya ‘Pour Your Heart Into It: How Starbucks Built a Company One Cup at a Time’.

Kondisi ini mendorong Schultz, sejak usia muda, untuk bekerja keras demi membantu keluarganya.

BACA JUGA:  Akibat Seruan Boikot Produk Pro Israel, Starbucks dan H&M di Negara ini Berhenti Beroperasi

Salah satu pekerjaan pertamanya adalah sebagai loper koran, yang ia lakukan dengan tekun meskipun kehidupannya saat itu sulit.

Namun, semangat dan kerja keras Schultz tidak sia-sia.

Ia mendapatkan beasiswa berolahraga di Northern Michigan University dan lulus dengan gelar sarjana komunikasi pada tahun 1975.

Setelah itu, Schultz memulai karirnya di Xerox sebagai sales dan marketing, sebelum akhirnya menjadi vice president di Hammarplast.

Pada tahun 1981, perjalanan Schultz dengan Starbucks dimulai ketika ia mengunjungi kedai kopi pertama perusahaan di Seattle.

Ia jatuh cinta dengan budaya kopi Italia saat mengunjungi Milan, yang menginspirasinya untuk memulai II Giornale setelah meninggalkan Starbucks sementara.

BACA JUGA:  Daftar Minyak Goreng Asli Indonesia yang Tidak Masuk Daftar Boikot Produk Pro Israel

Pada 1987, Schultz kembali ke Starbucks dengan mengambil alih perusahaan dan mengembangkannya menjadi sebuah fenomena global.

Di bawah kepemimpinannya, Starbucks berkembang pesat dari hanya 4 kedai menjadi 3.000 gerai di seluruh dunia pada tahun 2000.

Keberhasilan Schultz dalam memimpin Starbucks tidak berhenti di situ.

Hingga saat ini, perusahaan telah memiliki hampir 30.000 gerai di seluruh dunia, menjadikannya salah satu merek global yang paling dikenal dan sukses.***

Cek Berita dan Artikel Edaran.ID lainnya di Google News