Market  

Unilever Indonesia, Dulu Masuk Daftar Boikot, Kini Kutuk Serangan Israel

Avatar
Benjie Yap diusulkan menjadi Presdir Unilever Indonesia, menggantikan Ira Noviarti. (Foto: Unilever Filipina).

Edaran.ID, Jakarta – PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), telah mengambil sikap tegas terkait konflik di Timur Tengah.

Unilever Indonesia dengan tegas mengutuk keras serangan yang dilakukan Israel terhadap Palestina.

Padahal sebelumnya, Unilever sempat masuk daftar boikot di Indonesia atas dugaan terafiliasi dengan Israel.

Namun kini, mereka menyatakan komitmennya dalam mendukung hak asasi manusia dan menentang segala bentuk kekerasan.

BACA JUGA:  Jangan Salah Boikot, ini Daftar Produk Wings yang Banyak Dijual di Warung

Presiden Direktur Unilever Indonesia, Benjie Yap, dalam pernyataan resminya, dikutip Rabu (19/6/2024), menegaskan bahwa Unilever Indonesia berdiri teguh dalam mendukung perdamaian dan mengutuk genosida yang terjadi di Palestina.

“Kami menentang segala bentuk kekerasan yang mengancam warga sipil tak bersalah dan kami mengecam agresi yang tidak dapat dibenarkan dalam bentuk apapun,” ujar Benjie Yap.

Selain itu, Unilever Indonesia juga telah aktif dalam berbagai inisiatif kemanusiaan dan kolaborasi dengan berbagai lembaga untuk membantu masyarakat yang terdampak konflik.

BACA JUGA:  Daftar Lengkap Investasi Ilegal Menurut OJK, Ada Pi Network Indonesia

Seperti misalnya pada awal tahun ini, perusahaan bekerja sama dengan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) untuk mengembangkan model bisnis yang berkelanjutan dalam lima tahun ke depan.

Termasuk mendonasikan dana kemanusiaan yang signifikan untuk bantuan krisis kemanusiaan.

Benjie Yap juga menyoroti tantangan yang dihadapi Unilever Indonesia akibat penyebaran informasi yang tidak benar terkait situasi geopolitik, yang berdampak pada kinerja bisnis perusahaan.

BACA JUGA:  Ini Daftar Produk Pro Israel yang Diboikot, Air Minum Crystalline dan Biskuit Roma Tidak Masuk

Namun, upaya klarifikasi yang konsisten berhasil mengembalikan penjualan perusahaan hingga mencapai 92% dari level normal pada awal tahun 2024.***

Cek Berita dan Artikel Edaran.ID lainnya di Google News