Jakarta, Edaran.ID – Prada Group menjadi salah ikon dalam dunia fashion mewah.
Namun, kini Prada Group mendapat sorotan internasional setelah masuk dalam daftar boikot produk yang diduga terafiliasi dengan Israel.
Sebelumnya, gerakan boikot produks pro Israel ini disuarakan masyarakat dunia akibat dampak konflik politik dengan Palestina.
Prada Group tidak hanya dikenal sebagai pemimpin dalam industri fashion, tetapi juga sebagai pelopor dalam menghadirkan dialog tidak konvensional dengan masyarakat kontemporer melalui merek-mereknya yang bergengsi.
Seperti Prada, Miu Miu, Church’s, Car Shoe, dan Luna Rossa.
Grup ini mengusung nilai-nilai kreativitas, pertumbuhan berkelanjutan, serta meningkatkan visibilitas dan daya tarik merek-mereknya di berbagai bidang budaya.
Dengan lebih dari 26 pabrik yang dimiliki sendiri dan lebih dari 14.800 karyawan di seluruh dunia, Prada Group tidak hanya mendesain dan memproduksi koleksi pakaian siap pakai, Barang dari kulit, alas kaki, dan perhiasan.
Akan tetapi juga mendistribusikan produknya di lebih dari 70 negara melalui 606 toko yang dioperasikan secara langsung.
Mereka juga memiliki saluran e-commerce, dan kemitraan dengan pengecer daring serta department store terkemuka.
Tidak hanya itu, Prada Group juga aktif di sektor kacamata dan kecantikan melalui perjanjian lisensi dengan para pemimpin industri.
Pada tahun 1913 Prada terdaftar di Bursa Efek Hong Kong dan Prada Group telah mengukir sejarah panjang dalam industri fashion dengan menggabungkan keahlian tradisional dengan inovasi modern.
Meskipun berada di puncak industri mewah global, kehadiran Prada Group tidak luput dari kontroversi.
Terutama dalam konteks dukungan atau terafiliasi dengan entitas politik seperti Israel.***






